RSS

Metode Resonansi Gelombang Otak

02 Jun

Berdasarkan hukum resonansi yang menyatakan bahwa sebuah materi akan mampu bergetar oleh getaran benda lain demikian pula yang terjadi pada otak. Otak sebenarnya selalu bergetar. Kondisi getaran itu menghasilkan reaksi kimia yang komplek yang berakibat pada penembakan denyut electic sebagai bentuk dasar infomasi. Informasi-informasi inilah yang kemudian disebar ke dalam seluruh tubuh berupa perintah bagi tubuh untuk merasakan dan melakukan sesuatu. Vibrasi pada otak ini berasal dari data-data input yang diterima oleh panca indra manusia; mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Pada fase ini data tersebut masih berupa data mentah yang belum memiliki nilai dan arti. Setelah masuk ke dalam otak, data-data tersebut lalu diolah berdasarkan variabel-variabel dasar yang tertanam di otak. Pada saat inilah kemudian otak memberikan penilaian. Berdasarkan penilaian ini otak kemudian memberikan perintah-perintah tertentu pada sistem tubuh guna mempertahankan eksistensinya.

Untuk memenuhi kebutuhan pribadinya manusia bisa menggunakan pengetahuan ini. Dengan memberikan data input tertentu maka otak akan “dipaksa” untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi manusia pemiliknya, misal meningkatkan IQ, belajar cepat, meditasi, aktifitas2 supranatural, mengobati atau meningkatkan kesehatan bagi mereka yang menderita ADHD, ADD (Autism), susah tidur dan seterusnya.

Namun sayangnya bahwa untuk mencapai hal tersebut diatas tidaklah mudah seperti yang kita harapkan, karena keterbatasan pendengaran dan penglihatan manusia. Misalnya sinyal suara, atau frekwensi suara, hanya dapat didengar dari 20 Hz s/d 20 khz itupun batas pendengaran efektif akan berlainan untuk setiap orang (wanita, pria atau anak), bahkan anak kecil mampu mendengar suara diatas 20 Khz, namun rata2 manusia hanya dapat mendengar antara 50 hz s/d 8 khz saja.

Lalu bagaimana agar gelombang frekwensi suara yang diterima dan didengar oleh telinga kanan dan kiri dapat direspon dengan baik oleh otak (pusat syaraf) dan diterjemahkan sebagai gelombang2 betha, alpha, theta dan delta ( dan juga gamma, hypergamma, lamda dan epsilon )? Metode yang sangat cukup efektif diperkenalkan saat ini adalah dengan menggunakan Binaural Beats.

Binaural Beats

Apabila 2 gelombang frekwensi f1 dan f2 (telinga kanan dan kiri ) dipadukan menjadi satu, maka secara matematik akan diperoleh hasil sebagai berikut :
• frekwensi dasar yaitu f1 dan f2.
• kelipatan atau harmonik ganjil dari masing2 frekwensi yaitu 3f1, 5f1 dst dan 3f2, 5f2 dst
• selisih dan jumlah dari kedua frekwensi dasar tersebut ( f1 – f2) dan (f1+f2).

Tergantung dari aplikasi matematis tersebut, pada penggunaan dan perhitungan untuk otak (pusat syaraf) manusia maka yang direspon “hanya” f1 dan f2 sebagai suara biasa dan ( f1 – f2 ) yang akan direspon oleh otak (pusat syaraf) sebagai gelombang-gelombang gamma, behta, alpha, theta atau delta. Misalnya f1 = 400 hz dan f2 = 410 hz, maka ? f = 10 Hz direspon otak sebagai gelombang alpha, maka selisih dua frekwensi yang berbeda ini disebut binaural beat atau pelayangan 2 sinyal .
Binaural beat ditemukan dan diselidiki pertama kali oleh Heinrich Wilhelm Dove pada tahun 1839 dan menjadi terobosan yang sangat mengesankan di dunia kedokteran, psikologi hingga spiritual. Hal ini dikarenakan kesederhanaan penggunaannya yang hanya membutuhkan audio stereo dan telinga yang sehat saja namun memiliki hasil yang sangat memuaskan.

Saat mendengarkan binaural betas ini maka pengguna disuruh untuk bersantai dan menutup 4 gerbang indra lainnya kecuali telinga. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari masuknya input data dari indra lainnya hingga bisa mengacaukan kinerja otak yang tengah dimanipulasi oleh binaural beats. Dengan mendengarkan dengan rilex maka gelombang otak akan beralih pada kondisi frekwensi yang diinginkan. Misal kondisi alpha, maka otak si pendengar akan beralih pada frekwensi alpha yang kemudian menghasilkan sensai tenang, damai dan indah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 02/06/2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: