RSS

Mind Power dan Rekayasa Gelombang Otak

02 Jun

Pernahkan anda berpikir betapa bahagianya hidup terus menerus sebagai anak-anak? Well, saya hampir yakin bahwa semua orang dewasa pernah melakukannya. Di satu sisi, menjadi dewasa memang sebuah kutukan; saat mengetahui bahwa dunia tak seindah yang dibayangkan dulu, di atas langit tidak ada kerajaan dan bidadari, peri dan kurcaci tidak ada dan bahwa cinta pada akhirnya adalah hal yang sangat rumit dan sulit untuk ditemukan. Pengetahuan-pengetahuan mengenai dunia memang membuat orang dewasa , disadari atau tidak, frustasi. Impian untuk selalu hidup dalam dunia fantasi namun penuh keindahan inilah yang konon mendasari lahirnya cerita yang sangat terkenal, Peterpan And Captain Hook, yang merupakan gambaran pertikaian antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa.

Fenomena bahwa anak-anak cenderung untuk selalu merasa bahagia ini dipelajari oleh seorang ilmuwan Erbe Sentanu dari Katahani Institute yang menyimpulkan bahwa anak-anak masih mudah menyetel gelombang otak mereka pada frekwensi Alpha – Tetha. Frekwensi ini adalah frekwensi yang dihasilkan otak pada saat otak dalam kondisi santai, melamun dan berimajinasi. Kondisi ini menghasilkan sensasi yang sama yang dirasakan pada masa anak-anak; santai, bahagia, positive thinking dan mudah memaafkan. Kalau anda perhatikan mungkin anda akan heran melihat betapa mudahnya seorang anak kecil memaafkan dengan tulus sahabatnya setelah beberapa menit sebelumnya mereka bertengkar.

Sebaliknya, pada saat otak sedang bekerja dan berkonsentrasi ia akan menghasilkan gelombang Betha. Kondisi ini banyak ditemukan pada orang dewasa dengan gejala; tegang dan konsentrasi tinggi, curiga, kuwatir dan sulit memaafkan kesalahan orang lain. Sayang sekali bahwa hal ini adalah alamiah bagi manusia. Saat manusia menjadi dewasa maka ia “dipaksa” oleh lingkungan dan keadaan untuk belajar banyak hal di waktu yang sangat sempit yang memaksa mereka untuk mengaktifkan gelombang betha mereka. Hal ini terus berlangsung selama bertahun-tahun hingga gelombang betha ini menjadi dominan dan gelombang alpha-tetha (baca: keluguan) menjadi tersisih. Manusia dewasa menjadi semakin sulit untuk berfantasi hingga daya kreativitasnya menurun. Paksaan untuk mandiri meningkatkan insting untuk bertahan diri yang menghasilkan sikap curiga terhadap perbedaan. Insting bertahan diri ini pulalah yang bertanggung jawab atas bertahannya memori buruk di otak. Orang dewasa cenderung lebih mengingat orang yang menyakitinya daripada orang yang berbuat baik kepadanya. Perasaan takut tersisih membuatnya terus-menerus mengingat orang-orang yang dianggap musuh. Hasilnya adalah perasaan dendam dan sulit memaafkan.

Pribadi manusia (fisik dan mental) sendiri sebenarnya punya mekanisme penyeimbang sendiri untuk menghadapi hal ini. Penggunaan gelombang Betha yang terlalu berlebihan sebenarnya bisa diatasi dengan tidur dan ritual spiritual (shalat, sembah Hyang, meditasi dll) dimana pada saat itu otak manusia memasuki fase alpha-tetha. Namun dengan keadaan dunia yang seberat ini, seringkali manusia tidak cukup waktu untuk melakukan mekanisme penyeimbangan tersebut.

Menurut Erbe Sentanu sendiri, selain cara-cara tersebut di atas, ada cara lain yaitu menggunakan teknologi audio modern. Teknologi ini memberikan cara yang bisa menyeimbangkan otak kanan-kiri manusia untuk saling bekerja sama dengan baik dan dengan mudah mampu masuk ke dalam fase alpha-tetha. Hal ini banyak diterima masyarakat barat karena kemudahan dan keefektifitasnya. Selain itu juga karena masyarakat barat tidak terlalu familiar dengan konsep pendekatan spiritual layaknya masyarakat timur.

Klasifikasi Gelombang Otak

Seperti yang telah disinggung di pendahuluan bahwa perasaan bahagia atau pun sebaliknya sebenarnya terpicu oleh keadaan kesiagaan otak. Otaklah yang bertanggung jawab atas semua yang dirasakan oleh manusia. Logikanya adalah bahwa apabila manusia bisa membentuk sebuah kondisi pada otak maka ia bisa membentuk kondisi dalam hatinya. Saya sendiri sangat percaya bahwa tiap-tiap manusia yang terlahir adalah berhak untuk bahagia. Seringkali saat manusia dalam keadaan tertekan maka ia cenderung melarikan diri pada hobi dan hal-hal yang ia sukai. Sebenarnya ini adalah mekanisme diri untuk memasuki fase alpha-tetha di mana mereka kemudian merasa kembali bahagia. Pada saat manusia berada di lingkungan yang nyaman bagi pribadinya maka ia cenderung untuk tidak berpikir. Ia cenderung hanya menikmatinya saja.
Untuk bisa merekayasa gelombang otak maka perlu diketahui klasifikasi gelombang otak itu sendiri. Berdasarkan riset selama bertahun tahun, terutama di Amerika, Eropa dan juga di Asia bahwa getaran/frekwensi otak (pusat syaraf) pada manusia, berbeda untuk setiap fase ( sadar, tidur ringan, tidur lelap/nyenyak, kesurupan/trance, panik ), sehingga beberapa ahli (dokter) dalam bidang kejiwaan/psikiater, ( neurophysiologic ) dan dokter syaraf membuat suatu komitmen dan perjanjian sebagai berikut :

Getaran/Frekwensi :
• Gamma 16 Hz ~ 100 Hz
• Beta > 12 Hz
• SMR (SensoriMotor Rhythm) 12 Hz ~ 16 Hz
• Alpha ( Berger ‘s wave) 8 Hz ~ 12 Hz
• Theta 4 Hz ~ 8 Hz
• Delta 0.5 Hz ~ 4 Hz

Seluruhan frekwensi tersebut bekerja dan bergabung secara acak (berinterferensi), namun dengan EEG, frekwensi gelombang ini dapat dianalisa dan diuraikan satu persatu dengan catatan bahwa pada saat diukur, frekwensi mana yang paling dominan, serta memiliki amplitudo tertinggi, itulah yang dianggap dan berada pada fase tersebut, apakah fase Beta, Alpha, Theta atau Delta dan seterusnya. Amplitudonya diukur dan berkisar antara 1 ~ 50 uVolt (microVolt), sedangkan arus listriknya tidak diperhitungkan.

Gamma



Adalah frekwensi pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang sangat tinggi, seperti sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, “nerveus”, kondisi ini menghasilkan kesadaran mental secara penuh.

Di atas gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma ( tepat 100 Hz ) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz), akan berpengaruh pada kemampuan SUPRANATURAL, METAFISIKA dan LEVITASI.

Betha


Adalah frekwensi pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang sadar penuh dan normal aktif, konsentrasi penuh dan dapat dibagi pula menjadi 3 kelompok, yaitu highbeta ( 19 Hz + ) yang overlap/transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta ( 15 hz ~ 18 hz ), juga overlap/transisi dengan getaran gamma, selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz).

Alpha


Adalah frekwensi pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami releksasi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk, atau suatu fase dari keadaan sadar menjadi tak sadar (atau bawah sadar), namun tetap sadar (walaupun kelopak mata tertutup). Disinilah saat-saat penting dimana seorang ahli hipnotis memberikan sugensti pada suyet. Saat ini pulalah yang biasanya para projector memberikan affimasi pada dirinya sendiri sebelum melakuak Astral Projection, Lucid Dream dan OOBE.

Frekwensi alpha 8 ~ 12 hz , merupakan frekwensi pengendali, penghubung dan melakukan aktifitas yang berpusat di-sel2 thalamic (electrical activity of thalamic pacemaker cells).

Tetha


Adalah frekwensi pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami keadaan tidak sadar atau tidur ringan atau sangat mengantuk , tanda2nya napas mulai melambat, dalam dan panjang, dibandingkan biasanya.

Jika dalam keadaan sadar (tidak tidur), kondisi ini masuk kefase atau dibawah pengaruh “trance”, kesurupan, hipnosis, meditasi dalam, atau sedang menjalani ritual2 agama, atau mengalirnya tenaga psikologi (Prana/Yoga, Reiki, Chi, Chi Kung).

Kondisi frekwensi tetha ini sangat banyak ditemukan pada kasus-kasus anak Indigo yang memiliki kemampuan lebih dari manusia pada umumnya. Bahkan kondisi tetha ini melekat permanen pada mereka.
Schumann Resonance adalah getaran alam semesta pada frekwensi 7.83 Hz , yang juga masuk dalam kelompok gelombang theta, dianggap sebagai suatu keadaan mental seseorang yang apabila otak (pusat syaraf) nya mampu mengikuti resonansi ini akan masuk keadaan supranatural . ( ESP-extra sensory perception, hipnotis, telepati dan fenomena serta aktifitas mental lainnya).

Berdasarkan hukum fisika dasar tentang resonansi maka apabila otak berada di dalam schummann Resonance maka ia akan tervibrasi sama seperti frekwensi alam semesta tersebut. Hal ini yang menjelaskan tentang sumber ilmu pengetahuan anak-anak indigo yang seperti tak terbatas itu.

Deltha


Adalah frekwensi pusat syaraf (otak) yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, biasanya < 3 hz, yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami keadaan tidur sangat lelap atau anak dibawah usia 13 th ketika dalam keadaan sadar penuh. Dalam keadaan normal, seorang dewasa yang sedang tidur pada malam hari.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 02/06/2012 in spiritual

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: